Di belakang rumahku yang pertama (Jl. Raya), ada tembusan yang menuju ke wilayah yang disebut dengan istilah 'Kauman', dan ada masjid besar di sana.
Tepat di belakang rumahku ada kuburan juga. Dan ada beberapa rumah di sana. Salah satu rumah kulihat ada seseorang yang pekerjaannya adalah menghancurkan batu bata merah. Tujuannya, dia jual bubukan / serbuk batu bata merah itu kepada mereka yang membutuhkannya.
Pak tua itu (kalau tidak salah ingat, namanya Pak Karap), bekerja dengan cara menghancurkan batu bata dengan sebuah pemukul dari besi. Dia duduk di depan batu bata-batu bata itu, dan terus mengayunkan tongkat itu di atas kepalanya. Lama kelamaan, batu bata2 itu hancur.
Kemudian dia menyaringnya (= bhs. Jawa - - mengayaknya), supaya menjadi butiran-butiran yang halus. Yang masih kasar, dihancurkannya lagi. Demikian hingga tugasnya selesai, paka serbuk batu bata merah itu dijualnnya.
Tampilkan postingan dengan label Profesi di Ngunut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profesi di Ngunut. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 30 April 2011
Penghancur Batu Bata
Selasa, 19 April 2011
Penitipan Sepeda
Ya, ada sebuah tempat penitipan sepeda di dalam Pasar Ngunut. Orang-orang yang berbelanja ke pasar, menitipkan sepeda mereka di tempat itu, dan membayar sewanya.
Yang menarik, ada juga yang dikelola oleh pemilik gedung bioskop di desa kami. Dulu, kalau tidak salah bernama bioskop "NIAGARA", dan "PERDANA" (sorry kalau salah). Menariknya, jika ada film yang terkenal diputar : Dang Dut Haji Rhoma Irama, Suzanna, Film-film India, maka tempat penitipan ini full-house, penuh sesak!
Yang menarik, ada juga yang dikelola oleh pemilik gedung bioskop di desa kami. Dulu, kalau tidak salah bernama bioskop "NIAGARA", dan "PERDANA" (sorry kalau salah). Menariknya, jika ada film yang terkenal diputar : Dang Dut Haji Rhoma Irama, Suzanna, Film-film India, maka tempat penitipan ini full-house, penuh sesak!
Minggu, 17 April 2011
Penjual Nomor
Aku punya tetangga, di belakang rumahku di Jl. Raya Ngunut. Suaminya berprofesi sebagai (istilah waktu itu) "Penjual Nomor". Orangnya berkumis lebat. Biasanya dia membawa sebuah koper yang berisikan alat-alat tulis.
Nomor apa yang dijualnya ?
Pada jaman itu dilaksanakan secara legal 'undian berhadiah'. Orang-orang membeli beberapa nomor yang dipercaya akan merupakan nomor yang tepat dengan 'nomor yang diterbitkan' oleh 'pusat'.
Misal, si A membeli nomor 51,33,55,44 masing-masing Rp. 500. Jika ternyata yang 'keluar / terbit' adalah nomor 55, maka dia mendapatkan uang Rp. 500 x sekian.
Nah, bapak ini dengan keahliannya berjualan suatu prediksi nomor yang akan keluar tadi.
Dia biasanya beroperasi dekat pasar Ngunut. Di sana, dia mencari tempat yang strategis. Kemudian dia membuka selembar kertas kosong yang cukup lebar. Dia mulai memperagakan hitungan-hitungannya berdasarkan nomor-nomor yang pernah keluar beberapa waktu silam.
Entah, dengan formula apa, yang pasti semua kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa membuat beberapa orang yang tertarik berkerumun. Dan, sekian menit kemudian, dia mulai menjual / berjualan sebuah kertas yang dibungkus rapi. Di dalam kertas itulah dia menaruh 'nomor-khusus' hasil prediksinya.
Beberapa orang yang yakin dengan 'teori'nya, mulai mengeluarkan uang dan membeli bungkusan itu, dan akan dibuka nanti, untuk digunakan membeli 'nomor'.
Apakah mereka benar-benar menjadi 'pemenang'? Entahlah. Tapi, itulah salah satu profesi yang kuingat waktu aku kecil di desa Ngunut...
= = = tambahan Senin malam, 18 April 2011 = = =
Istriku mengingatkan, dia dulu waktu di desa (Blitar) juga pernah menjumpai orang-orang seperti ini, dan ada lembaran-lembaran kertas yang dibuat dengan sistim stensil, bergambar khusus dan disertai kode-kode / angka-angka khusus juga. Ini seperti terbitan selebaran bagi para pemburu hadiah - nomor ini!
Nomor apa yang dijualnya ?
Pada jaman itu dilaksanakan secara legal 'undian berhadiah'. Orang-orang membeli beberapa nomor yang dipercaya akan merupakan nomor yang tepat dengan 'nomor yang diterbitkan' oleh 'pusat'.
Misal, si A membeli nomor 51,33,55,44 masing-masing Rp. 500. Jika ternyata yang 'keluar / terbit' adalah nomor 55, maka dia mendapatkan uang Rp. 500 x sekian.
Nah, bapak ini dengan keahliannya berjualan suatu prediksi nomor yang akan keluar tadi.
Dia biasanya beroperasi dekat pasar Ngunut. Di sana, dia mencari tempat yang strategis. Kemudian dia membuka selembar kertas kosong yang cukup lebar. Dia mulai memperagakan hitungan-hitungannya berdasarkan nomor-nomor yang pernah keluar beberapa waktu silam.
Entah, dengan formula apa, yang pasti semua kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa membuat beberapa orang yang tertarik berkerumun. Dan, sekian menit kemudian, dia mulai menjual / berjualan sebuah kertas yang dibungkus rapi. Di dalam kertas itulah dia menaruh 'nomor-khusus' hasil prediksinya.
Beberapa orang yang yakin dengan 'teori'nya, mulai mengeluarkan uang dan membeli bungkusan itu, dan akan dibuka nanti, untuk digunakan membeli 'nomor'.
Apakah mereka benar-benar menjadi 'pemenang'? Entahlah. Tapi, itulah salah satu profesi yang kuingat waktu aku kecil di desa Ngunut...
= = = tambahan Senin malam, 18 April 2011 = = =
Istriku mengingatkan, dia dulu waktu di desa (Blitar) juga pernah menjumpai orang-orang seperti ini, dan ada lembaran-lembaran kertas yang dibuat dengan sistim stensil, bergambar khusus dan disertai kode-kode / angka-angka khusus juga. Ini seperti terbitan selebaran bagi para pemburu hadiah - nomor ini!
Label:
Kenangan,
Masa SD,
Profesi di Ngunut
Langganan:
Postingan (Atom)