Tampilkan postingan dengan label Dialog dengan penumpang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog dengan penumpang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Desember 2011

Dialog hari ini

Di angkot - perjalanan berangkat ke kantor.

Seorang bapak menerima panggilan temannya, dan mengatakan bahwa dia merasa 'sungkan karena tidak bekerja' di rumah yang dia tinggali. Dia akan ke Jogjakarta, cari pekerjaan singkat. Lalu, lanjut ke Jakarta, dan kemudian ke Indonesia Wilayah Timur...

Di bis kota, seorang bapak yang curhat di kananku :

- Anak-anaknya dia didik dengan keras (karena dia komentari pengamen yang membagikan amplop minta sumbangan ke penumpang : "koq malas bekerja, masih muda") dan mengajarkan mereka untuk rajin bekerja dan memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh. Anak-anaknya disekolahkan di Pelayaran, 4 orang. Kini, kakak2nya bisa mensupport adik-adiknya.

- Usia 53 th, masih bekerja di pelayaran. Tidak mau mengganggur. Kadang pulang hanya 3 bulan sekali.

- Kadang bawa ayam horen ke NTT, kadang beruntung, kadang mati ayam2nya. Dia punya pelanggan di sana.

- Cerita tentang tetangganya, orang Cina, yang tidak punya 2 kaki. Tapi ahli mekanik, punya anak buah 6 orang di bengkelnya yang rame. Dia bekerja dengan digendong anak buahnya, dan memberi komando mereka. Sungguh, tanpa ragu, bersemangat!

- Bapak ini dulu dididik dengan keras oleh orang tuanya. Bapaknya seorang Tentara yang jarang pulang. Dia 10 orang bersaudara, maka mamanya yang berjuang keras menjadi 'tulang punggung' keluarga. Mereka sejak kecil diajari BEKERJA KERAS, membantu profesi mamanya sebagai pemotong daing. Pagi-pagi mereka harus mengantar potongan2 daging itu para pelanggan. Sore hari, menagih pembayaran. Kalau sekolah libur, dia ditugaskan jualan daging di pasar. Dia tidak malu.

Inilah pelajaran tiap hari yang kuterima saat naik angkot dan bis kota - berangkat dan pulang pergi ke tempat kerja.

Selasa, 19 April 2011

Pemuda dari BLORA

Sepulang dari kantor, dalam angkot ke 2 yang membawaku ke rumah, ada seorang pemuda menanyakan jurusan ke 'Sedati', dan naik. Dia membawa ransel dan sebuah kardus. Mungkin berisi pakaian.

Seorang ibu mengajaknya berdialog. Setelah sepi dan tinggal kami bertiga, giliranku bertanya-jawab dengan dia. Berasal dari BLORA, Jawa Tengah. Kemudian akupun mengaku dari Tulungagung, dan bertukar pengalamanku sewaktu masih 'baru pindah' dari desa ke kota Surabaya ini.

Pemuda ini menuju ke Sedati untuk mengerjakan suatu proyek. Kami berdialog dan bercerita tentang sedikit pengalamanku waktu pindah dari desa ke kota Surabaya, tahun 1986 silam, karena tidak mampu kuliah. Aku bekerja di sebuah konveksi, dan sering bertugas ke luar kota - Jawa Timur, Bali, Madura dan Jawa Tengah. Waktu di Jawa Tengah, aku cuma ingat beberapa nama kota yang kami singgahi : Blora, Klaten, Kudus, Temanggung, Wonosobo, dsb...

Dan, kukisahkan bagaimana aku belajar, bekerja, dan sempat memberikan sebagian penghasilanku kepada ibuku di desa, walau waktu sangat singkat. Hanya 2 tahun aku bekerja, ibuku dipanggil Tuhan ! Namun aku bersyukur karena aku sempat meminta ampunan kepadanya, sebelum dia meninggal dunia. (Juga kepada ayahku, kira-kira tahun 1982 dia meninggal, aku sempat minta ampun juga). Belum bisa menjadi anak yang baik - dan membalas kepada orang tua.

Hati-hati, itu pesanku. Jangan mudah percaya kepada orang-orang yang kita jumpai, dan jangan ragu-ragu untuk 'menanamkan kebaikan'... menolong orang lain, sebab kelak, TUHAN akan membalasnya, baik kepada kita atau ke anak-cucu kita.

(Aku tidak memberinya nomor hp ku - jika berjodoh dan dia menemukan tulisan ini, dia pasti ingat, aku menyebut namaku : Pak Yos saja..)