Minggu, 24 Januari 2010

Di Yogyakarta, Bonek Melukai Masinis dan Jurnalis Televisi

Minggu, 24 Januari 2010 | 17:06 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Arus balik suporter Persebaya Surabaya alias bonek dari Bandung ke Surabaya kembali menuai kericuhan. Massa bonek yang diberangkatkan dengan kereta api luar biasa (KLB) dengan dua kali angkutan kembali berulah dengan melempari batu dari dalam kereta ke arah luar kereta.

Akibatnya semua kaca rangkaian kereta yang terdiri dari 10 rangkaian dan kaca bagian lokomotif pada kereta pertama pecah semua. “Kereta yang sampai Yogyakarta pukul 09.00 pagi diketahui kacanya pecah semua. Kalau yang sampai Yogyakarta pukul 15.00 belum terdata, tapi pasti pecah juga,” kata Kepala Humas Kereta Api Daerah Operasional VI Yogyakarta Eko Budianto, Minggu (24/1).

Selain kaca-kaca yang pecah, kerugian material lainnya adalah rusaknya beberapa kaca gardu penjaga pintu perlintasan kereta. Para penumpang tujuan Yogyakarta-Surabaya yang naik kereta ekonomi Pasundan pun terpaksa batal berangkat lantaran kereta tersebut disewa massa bonek sehingga menjadi kereta luar biasa. Bahkan jadwal kedatangan dan keberangkatan beberapa kereta sempat terlambat, seperti kereta Prambanan Ekspres jurusan Yogyakarta-Surakarta. “Kalau ditaksir PT Kereta Api rugi ratusan juta rupiah,” kata Eko.

Bahkan perjalanan bonek yang pulang kampung kali ini menuai korban di Yogyakarta. Seorang masinis bernama Aris dan petugas pelayan kereta api Budimantoro yang bertugas pada KLB pertama mengalami luka pada bagian punggung karena kena lemparan batu dari bonek.

Begitu pula seorang jurnalis televisi swasta Indosiar Prisca Niken juga terkena lemparan batu pada bagian tangannya saat bertugas meliput di Stasiun Lempuyangan saat kedatangan bonek dengan kereta KLB kedua.

Namun saat kereta berhenti di Stasiun Patukan Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, para bonek tidak banyak berulah meskipun sempat turun dari kereta. Hanya saja saat kereta lewat di Stasiun Lempuyangan, massa bonek berulah dengan melemparkan batu ke arah luar kereta meskipun kereta terus berjalan dengan kecepatan 110 kilometer per jam.

“Ulah bonek ini kriminal, harus ada pihak yang bertanggung jawab untuk mengganti kerugian,” tandas Eko sembari menambahkan bahwa PT KA juga mengalami kerugian immaterial lantaran nama baiknya tercemar.

Eko berharap agar ada perbaikan manajemen dari pihak-pihak penyelenggara turnamen saat menghadirkan kesebelasan Persebaya Surabaya bertanding di luar kandang. Pasalnya, massa bonek pasti akan mengikutinya. Yakni harus ada perjanjian, bahwa massa bonek harus membayar tiket kereta dan harus ada yang mengganti kerugian jika ada kerusakan akibat ulah bonek. “Bonek bukan lagi istilah zaman 10 November 1945 yang rela mati karena melawan Sekutu, tapi sekarang menyerang dengan konyol,” kata Eko kesal.

diambil dari TEMPOINTERAKTIF dot COM.

(Sayang, saya tidak suka dengan sikap bonek ini. Dengan orang2nya aku mau jadi teman, tapi dengan sikapnya . . . sorry, gak ada dukungan buat bonek!)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar